santringaji**Dikisahkan dalam kitab IRSYADUL ‘IBAD ada sebuah keluarga
kecil yang terdiri dari ibu, kakak laki-laki dan adik perempuan. Keluarga ini
hidup sederhana. Ayah drkeluarga ini sudah meninggal dunia.
Suatu hari kakak laki-laki ini menikah dan otomatis pindah
rumah bersama istrinya. Dan tinggallah si ibu dan adik gadisnya.
Suatu hari, si adik sakit berhari-hari dan diusahakan
berobat kesana kemari. Akan tetapi Allah berkehendak lain. Adik gadis ini
menghembuskan nafas terakhirnya diumur yang masih sangat muda belia dan belum
bersuami.
Maka segera kakak laki-lakinya dikabari atas wafatnya sang
adik. Maka pulanglah kakaknya dan turut membantu proses persiapan jenazah sampai
penguburannya.Singakat cerita semua proses persiapan jenazah sudah selesai
dan segera diantar ke kuburan untuk segera dimakamkan. Si ibu melepas kepergian
anak gadisnya dengan penuh kesedihan.
Maka tibalah jenazah di komplek pemakaman umum dan segera
diturunkanke liang lahat. Semua berjalan lancar sampai selesainya proses penguburan.
Alhamdulillah.....
Maka pulanglah semua petakziah dan tinggal pihak keluarga
yang masih tinggal di komplek makam yang masih basah dengan gundukan tanah
merah. Mereka bermunajat kepada Allah agar sang anak gadis ini diterima disisi
Allah, dimudahkan segala urusannya baik di alam kubur, diampuni segala dosanya
dan diterima semua amal kebaikannya.
Maka pulanglah semua anggota keluarganya. Sesampainya di
rumah dengan masih dalam keadaan sedih, sang kakak mencari dompet karena ada
suatu keperluan. Dicari kesana kemari dompet itu tak kunjung ditemukan. Dia mengingat-ingat
dimana kira-kira dompetnya disimpan?. Barulah ia sadar kalau dompetnya jatuh di
liang lahat adiknya saat dia menurunkan jenazah adiknya di kuburan tadi.
Maka dia beranikan diri untuk bicara kepada ibunda yang
masih dilanda kesedihan.
“Ibu, maafkan saya. Saya tahu ibu sedang sedih. Akan tetapi
saya meminta izin kepada ibu untuk kembali ke pemakaman adik untuk mengambil
dompet yang tertinggal saat tadi menurunkan jenazah adik. Saya sangat
membutuhkan isi dari dompet itu”. Singkat cerita ibunya mengizinkan.
Maka berangkatlah sang kakak setelah sebelumnya meminta izin
kepada keluarga besar dan tokoh agama di kampung itu. Setelah sampai di area
pemakaman, sang kakak langsung mengayunkan cangkul ke gundukan tanah yang belum lama tadi
ditutup diatas jenazah adiknya. Setelah beberapa saat mencangkul tanah makam
adiknya, maka sudah nampak bahwa sebentar lagi akan sampai ke lobang dimana jenazah
adiknya berada.
Maka dia percepat ayunan cangkul agar tidak berlama-lama
disitu.
Tiba-tiba dia dikagetkan dengan suatu hal yang tidak lazim. Dibalik
lobang dimana adiknya diistirahatkan, tiba-tiba menyemburlah api dengan kobaran
yang besar. Seketika kakaknya lompat menjauh dari lobang kuburan adiknya yang
dia gali tadi. Antara takut, cemas, kaget dia hanya bisa menangis. Ada apa
gerangan? Kenapa hal aneh ini bisa terjadi? Api dari mana? Tanpa banyak
berfikir segera dia tutup lagi lobang kubur itu dan mengurungkan niatnya untuk
meneruskan mencari dompet yang dia cari.
Dengan tergesa-gesa dia percepat langkahnya untuk pulang dan
segera menemui sang ibunda.
Dan diceritakan semua kejadian itu kepada sang ibu. Dengan perasaan
hancur lebur, sang ibu menangis dengan sangat pilu. Bagaimana tidak hancur hati
seorang ibu melihat kenyataan anaknya baru saja meninggal dan tidak lama
mendapat kabar tentang semua hal yang menunjukkan hal yang sangat menegerikan
seperti itu?
Setelah sang ibu menangis lama dan bisa menguasai diri,
barulah sang ibu mulai membuka bibirnya dan berkata:
“Nak, ketahuilah.....adikmu itu baik, sopan, hormat sama
ibu, baik dengan tetangga, suka mengaji, suka bershodaqoh, suka membaca al
quran, suka bersilaturahim dengan sodara yang lain. Akan tetapi ketahuilah
nak......ada satu hal yang menurut ibu itulah yang menjadi sebab adzab yang
diterima adikmu”
Sang anak bertanya: “apakah gerangan perilaku adik yang membuatnya
mendapat adzab itu bu?”
Ibunya menjawab: “adikmu suka melakukan sholat 5 waktu diakhir waktu tanpa udzur yang dibenarkan oleh
agama”
ASTAGHFIRULLAHAL’ADZIM........begitu mengerikannya siksaan
kubur yang diterima oleh orang yang suka mengakhirkan sholat 5 waktu. Jika dipikir-pikir,
anak gadis ini melakukan sholat, tetapi “hanya”
mengakhirkan sholatnya. Pun sudah seperti itu adzab yang dia terrma. Maka kalau
kita mau jujur, berapa kali kita melakukan hal serupa? Bukannya kita sering
melakukannya? Bukankah itu sudah menjadi hal yang sangat umum dilakukan
orang-orang disekitar kita? Di masyarakat kita?
Wahai umat muslim......!!! Tidak tergerakkah anda untuk sedikit meluangkan
waktu untuk merenungi kisah diatas dan menjadikan itu sebagai pelajaran?
Tentunya semuanya harus kita usahakan dan tak lupa kita
berdoa memohon hidayah kepada Allah agar senantiasa taat melakukan perintahNya
sebagus mungkin.
Ya Allah....berikan kami hidayah Mu agar kami bisa
mendirikan shoalat dengan diawal waktu
dan berjamaah di masjid. Aamiin Ya Allah....
Akhi yang dimuliakan Allah....mari ajak keluarga kita untuk
bersama-sama sholat diawal waktu dan berjamaah di masjid. Mudah-mudahan Allah
meringankan langkah kita untuk menggapai ridho Allah. Aamiin ya robb.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar